Sendal Jepit

image1

Photo by Ajeng Karina Sari

Sebentar lagi lebaran, bagi para jomblo (seperti saya..), mungkin akan menjadi saat yang paling menakutkan dan membosankan.

Kenapa takut? karena akan diberondong berjuta-juta pertanyaan seputar “kapan nikah? kenapa ga bawa pacar? kenapa belom nikah? and the bla and the bla..”

Kenapa bosan? karena pertanyaan seperti ini telah berulang sejak lebaran beberapa tahun yang lalu. Sejak saya dianggap cukup dewasa untuk menikah.. hahahaha

Cukup curhatannya.

Jadi beberapa hari yang lalu, di halaman path saya, ada yang mengunggah foto tentang sendal jepit dengan quote

“Cari itu yang seperti sendal jepit. Bentuknya ga bagus-bagus amat tapi NYAMAN”

that time, when i saw that picture, i laughed. i dont know what i laughed for. it isnt funny either. Tapi tulisan ini betul sekali menurut saya. Saya punya sendal jepit yang biasa saya bawa pergi ke mana pun saya melangkahkan kaki ketika berpergian. Sendal itu sudah saya beli sejak 5 tahun yang lalu. Sampai sekarang, jika sendal tersebut menghilang dari tempatnya dan tidak saya temukan ketika membutuhkan, saya akan kepikiran sampai saya temukan lagi. Mencari model tersebut sekarang pun tidak saya temukan lagi. Saya takut sendal saya itu hilang betulan. Saya harus segera menemukan penggantinya. Tapi ternyata sulit. Satu hal, saya nyaman dengan sendal saya itu.

Saya teringat dengan jawaban pamungkas saya jika ada yang bertanya “nyari yang kaya gimana sih? milih-milih ya?” saya akan menjawab “engga kok. cuma cari yang nyaman aja diajak ngobrol”.

Jawaban klise? bukan. Memang betul kan? Bagaimana mungkin saya akan menghabiskan waktu seumur hidup nanti bersama orang yang tidak nyaman buat saya. Tidak bisa diajak bicara dengan santai, pembicaraan kami tidak satu frekuensi, humor kering yang tidak sevisi.. Saya tipe orang yang senang berbicara dengan orang lain. Saya butuh bicara untuk menyelesaikan masalah saya dan i need someone who wants to listen when i feel low.

Saya pernah membaca sebuah artikel tentang nasihat pernikahan yang awet. Nasihat yang paling utama adalah kurangi daftar kriteria yang kamu inginkan dari pasangan sampai tersisa tiga hal yang paling kamu tidak bisa toleransi dan prinsip. Tulis sedetil mungkin dan hindari menuliskan hal yang formatif seperti “saya ingin pasangan yang baik”. Baik ini relatif kan dan siapa juga di dunia ini yang ingin menikahi orang yang tidak baik?

Sejak dulu saya memang tidak pernah membuat standar tertentu tentang fisik. Buat saya tiga besar hal yang paling saya adalah inginkan seputar agama, kecocokan mind set hidup (paling tidak, enak diajak bicara dan wawasannya luas, boleh?), dan tidak menganggap saya gila. hahaha. Ini penting. Saya kadang bisa berlaku sangat random, berpikir sangat liar dan memutuskan sesuatu dengan pemikiran yang dangkal, ciri khas tipe golongan darah AB. Saya perlu orang yang mendukung semua hal tersebut.

Bonusnya saya berharap pasangan saya nanti punya hobi yang sama. Suka pergi berkelana ke tempat paling menantang sekalipun. Suka diving, bonus lainnya. hehehehe.

Sama seperti semua sendal jepit saya. Saya senang dengan sendal jepit yang berwarna-warni. Saya senang sendal jepit yang berbeda dengan sendal jepit dua warna kebanyakan di pasaran. Pada dasarnya saya memang tidak suka dengan sesuatu yang banyak dipakai orang. hehehehe.

Entah kenapa tulisan ini jadi seperti menuliskan daftar pilihan saya ya. hahahaha.
So, young man and woman, mari temukan “sendal jepit” kita masing-masing..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s