Setiap Pagi

SAMSUNG CAMERA PICTURES

bangku kosong di Taman Nasional Alas Purwo. Dokumentasi pribadi.

Setiap pagi, selama dua tahun belakangan ini, saya punya ritual yang dilakukan hampir oleh seluruh manusia urban ibu kota. Tapi khusus ritual saya, akan jadi seperti ini
05.00 bangung tidur, menuju kamar mandi05.00 – 05.30 ritual duduk di kloset, berusaha mengeluarkan semua hasil makanan sehari sebelumnya, mengumpulkan nyawa sambil membaca time line media sosial dan membalas semua pertanyaan yang terlewat ketika saya terlanjur tidur lebih awal (atau pesannya memang sampai terlalu larut dan saya sudah terlelap)
05.30 – 05.40 mandi secepat kilat dengan runutan sesuai SOP yang sudah dihapal otak
05.40 – 05.55 ini akan menjadi 15 menit paling mendebarkan karena saya perlu untuk beribadah pagi, menyetrika baju, memilih baju yang cocok dan cukup untuk tidak membuat saya seperti badut di kantor karena warna pakaian yang menyalahi aturan polisi fashion, pamit sama bapak ibu dan printilan lainnya.
maksimal pukul 05.55 saya harus berlari  ke stasiun kereta terdekat untuk menyejar melodi kereta KRL menuju kantor.

Selepas dari Stasiun Kebayoran, menuju Stasiun Palmerah, jika saya berdiri di sisi kanan dari arah datangnya kereta, saya akan melihat sebuah rumah cantik di pojok dekat jalan raya dengan tulisan dijual.

Seminggu, sebulan, enam bulan, tulisan ‘dijual’ itu masih ada di sana. Entah kenapa saya tertarik dengan rumah itu. Not so fancy not so big. Tapi sepertinya cukup untuk keluarga dengan dua (atau tiga) anak, dua kucing (atau lebih), beberapa tanaman cantik dan perabot yang nyaman. Imajinasi saya melayang tinggi setiap kali kereta saya melintasi rumah itu.

Dua tahun berlalu, saya jadi lebih jarang untuk memperhatikan rumah itu, sesekali hanya sekelibat saja menengok untuk memastikan tulisan ‘dijual’ itu masih ditempel di sana. Rasanya saya yakin, rumah itu sepertinya cocok untuk saya suatu saat nanti tapi saya yakin harganya sangat mahal untuk kondisi saya saat ini. Suatu saat ya. Suatu saat. Tunggu saya.

Ada masa di mana, ketika kereta saya kelewat penuh, rumah itu yang menyemangati saya tetap mengambil jalur ini. Meskipun saya tau itu hanya imajinasi saya saja.

Suatu hari, setelah hampir dua tahun, tulisan ‘ dijual’ itu tidak ada lagi di sana. Saya diam tertegun cukup lama. Sepertinya ia sudah menemukan majikan barunya. Semangat saya jatuh. Mendadak melodramatis seperti hancur. Aneh rasanya menjadi patah hati karena sebuah rumah.

Saya perlu semangat lainnya untuk berjuang setiap pagi.

Juni 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s